Wednesday, 9 March 2016

Cara Memperbaiki Layar Android Ghost Touch


How to repair smart phone screenHow To repair smart phone screen. Memperbaiki layar smart phone sebenarnya tidaklah terlalu sulit jika anda mengetahui terlebih dahulu kenapa layar smart phone eror. Karena cara mengatasi layar smart phone yang rusak hanya ada 2 saja. Jika eror karena software maka yang diperbaiki adalah softwarenya atau lebih tepatnya diminimalkan penggunaan aplikasi. Jika yang rusak adalah hardware maka anda tinggal membawa ke tukang service untuk menggantikannya. Walaupun anda sendiri bisa memperbaikinya jika memiliki alat untuk memperbaikinya.

Penyebab Utama yang menyebabkan Screen smart phone anda rusak atau error dan cara mengatasinya adalah :
Kerusakan pada baterai ataupun baterai kehabisan daya
Karena kebanyakan ghost touch terjadi di saat-saat baterai di android mau habis, jadi solusinya segera isi kembali baterai smartphone anda, akan tetapi bila di smartphone android anda terjadi masalah  ghost touch ini pada saat keadaan isi baterai masih banyak, dan lihatlah apakah baterai anda melembung? Jika iya,  maka solusinya gantilah baterai dengan yang baru.
Kerusakan pada Charger
Banyak teman yang mengalami layar smartphone androidnya gerak-gerak sendiri di saat melakukan charger hal ini biasanya terjadi karena anda menggunakan charger yang tidak originalginal atau asli bawaan hp.
Kondisi layar yang sedang panas
Layar touchscreen memiliki batas toleransi panas agar bekerja secara normal, akan terasa hangat  di luar smartphone dan anda terasa agak panas, tetapi di dalam smartphone pasti sudah panas sekali, solusinya hentikan pemakaian beberapa saat agar suhu kembali normal, atau cara lain yang tidak dianjurkan adalah dengan memasang spreader tambahan dari tembaga di bagian dalam casing hal tersebut untuk meredam panas.
Kondisi pelindung layar / Screen Guard /S creen Protektor yang kotor
Hal ini sering terjadi karena penumpukan debu yang memang sulit dibersihkan. Cara mengatasinya dalah dengan melepaskam pelindung layar kemudian bersikan layar dan ganti pelindung layar dengan yang baru.
Cpu dan Ram bekerja secara berlebihan.
Jika CPU dan RAM bekerja berlebihan karena terlalu banyak software yang tidak berguna makan akan terjadi overheat pada smartphone anda. Solusinya kurangi multitasking, maksudnya jangan kebanyakan membuka aplikasi secara berlebihan di smartphone anda, hal tersebut membuat performa smart phone  jadi tidak stabil dan mengakibatkan ghost touch.
Bugs pada Rom/software
Terdapat cacat pada ROM atau Software bawaan dari Smart Phone anda. Solusinya Upgrade romnya ke yang terbaru dan lebih stabil dan pastinya yang sesuai dengan smartphone anda atau bisa juga dengan mencoba dulu factory data reset.
Penyebab Lain dari Ghost Touch adalah
Touchscreen error karena terlalu sensitif atau lambat.
Saat Touch screen masih bisa digunakan dan masih bekerja tetapi jika anda mengalami masalah
seperti ini, cara mengatasinya adalah dengan mengatur kalibrasi dengan menuju ke Setting > Display > Calibration
Kemudian check dengan menggunakan kode *#*#2664#*#* untuk melihat sensitifitasnya.
Intinya adalah ketika anda menemukan kerusakan pada layar smart phone anda yang diakibatkan oleh software maka langkah yang harus anda lakukan adalah.
Restart smartphone android.
Jika layar sentuh Android benar­ benar tidak bisa digunakan lagi dan tidak berfungsi coba restart Smart phone anda.
Lepas baterai, kartu SIM dan Kartu memori.
Setelah anda restart, tetapi masih belum normal coba matikan smartphone anda kemudian lepas Baterai, Simcard dan Memory card, biarkan selama beberapa detik agar kapasitor di dalam motherboard tablet Android benar­ benar tidak dapat mengkonsumsi energi.
Bersihkan layar Android
Membersihkan layar smart phone dengan menggunakan tisu halus yang dibasahi alkohol isopropil. Atau jika anda tidak menemukan alkohol maka Minyak kayu putih adalah opsi yang sangat membantu.
Lakukan Factory Reset. (Sangat Tidak direkomendasikan)
Karena selain akan menghilangkan semua data­data, reset factory juga akan membuat android anda kembali seperti awal mula ketika anda baru menggunakannya. Pastikan snfs  melakukan backup semua data dan file di dalam memory eksternal secara manual ke PC komputer atau laptop.
Jika layar bergaris bagaimana cara mengatasinya.
Penyebab utama kerusakan layar sentuh adalah adanya benturan atau penekanan keras karena terjatuh. Ada beberapa penyebab terjadinya layar bergaris, diantaranya:
  • Handphone terlalu sering jatuh atau terkena benturan benda keras
  • Terlalu sering terkena radiasi signal
  • Panas yang terlalu over
  • Umur pakai layar yang memang sudah waktunya ganti (handphone terlalu tua)
  • Layar Terkena Air
Untuk mengatasi layar sentuh bergaris seperti kasus ini, berikut cara memperbaikinya:
Cara Mengatasi Layar Bergaris
Cara Mengatasi Layar Sentuh Bergaris
Beberapa langkah yang perlu dilakukan untuk mengatasi layar bergaris. Pertama persiapkan alat - alatnya
yaitu:
  • Kain lembut (sapu tangan)
  • Pengorek telinga (CottonBud)
  • Sikat gigi bekas
Langkah memperbaiki layar sentuh ponsel yang bergaris :
  1. Buka cashing handphone dalam keadaan hidup atau menyala
  1. Gosok secara beraturan di atas layar pada bagian yang rusak secara perlahan dengan cottonbud
  1. Jika bergaris kebawah (Vertical), gosok secara halus dari atas ke bawah.
  1. Jika membentuk lingkaran, gosok secara halus searah jarum jam.
  1. Jika bergaris ke samping (Horiginalzontal), gosok secara halus kekiri dan ke kanan.
  1. Dalam penggosokan, perlu sedikit tekanan dan lihat LCD akan tampak bagian yang rusak seperti lengket.
  1. Gosok terus kurang lebih 30 menit. Dibutuhkan kesabaran, karena jika terlalu menekan justru menambah rusak permukaan layar.
  1. Jika sudah, Restart handphone, pasang kembali chasingnya.
Jika tidak bisa diatasi juga saran saya adalah pakai saja sambil persiapkan budget untuk ganti layar. Atau bahkan pakai jurus Lembiru (Lempar beli yang baru) saja. Itulah Posting tentang cara memperbaiki layar sentuh yang error.








Read more

Wednesday, 20 January 2016

Kelebihan Dan Kekurangan Asus Zenfone 2 Laser


Asus Zenfone 2 Laser merupakan varian terbaru dari Asus Zenfone 2 yang diperkenalkan vendor Asus sejak Agustus 2015. Asus Zenfone 2 Laser sendiri memiliki banyak versi salah satunya adalah Asus Zenfone 2 Laser ZE500KG. Tidak perlu menanti lama, smartphone Asus Zenfone 2 Laser ZE500KG akhirnya resmi mendarat di Indonesia.
Harga Asus Zenfone 2 Laser ZE500KG resmi di Indonesia dibanderol Rp 1.999.000,- per unit untuk harga Asus Zenfone 2 Laser ZE500KG baru. Harga Asus Zenfone 2 Laser ZE500KG tersebut masih data berubah setiap saat seiring tempat jual serta wilayah tempat tinggal yang berbeda-beda.

Promo Asus Zenfone 2 Laser ZE500KG – Diskon + Cashback s/d 30%

Dapatkan Diskon + Cashback s/d 30% untuk pembelian smartphone dan gadget di toko online favoritmu, seperti Lazada, Blibli, GearBest & AliExpress melalui ShopBack Indonesia. Dapatkan juga Double Cashback jika belanja menggunakan kartu Kredit berlogo “MasterCard” (promosi terbatas hingga 31 Januari 2016). Yup, promo cashback juga berlaku untuk pembelanjaan produk Asus Zenfone 2 Laser ZE500KG ini. Caranya gampang banget, tinggal daftar di ShopBack, pilih toko yang anda mau, dan belanja seperti biasa.
Pada ulasan sebelumnya sudah dibahas mengenai spesifikasi dan harga Asus Zenfone 2 Laser ZE500KG. Pada ulasan kali ini akan membahas kelebihan dan kekurangan Asus Zenfone 2 Laser ZE500KG.
Sebelum membeli sebuah smartphone seperti Asus Zenfone 2 Laser ZE500KG alangkah baiknya jika kita melihat kelebihan dan kelemahan Asus Zenfone 2 Laser terlebih dahulu agar nantikita tidak merasa kecewa setelah membeli Asus Zenfone 2 Laser ZE500KG.Kelebihan dan kelemahan Asus Zenfone 2 Laser ZE500KG, simak selengkapnya uraian berikut.

Kelebihan dan Kelemahan Asus Zenfone 2 Laser ZE500KG

Kelebihan Asus Zenfone 2 Laser ZE500KG

Smartphone Asus Zenfone 2 Laser ZE500KG memiliki banyak kelebihan yang perlu Anda ketahui. Pada segi konektifitas smartphone Asus Zenfone 2 Laser sudah dibekali dengan konektifitas yang cukup lengkap sehingga akan mempermudah kegiatan komunikasi para pengguna Asus Zenfone 2 Laser ZE500KG.
Kelebihan Asus Zenfone 2 Laser yaitu sudah dibekali dengan Dual SIM (Micro-SIM, dual stand-by) serta didukung jaringan 2G GSM untuk kelancaran komunikasi. Dukungan Dual SIM tersebut akan membuat para pengguna Asus Zenfone 2 Laser dapat mengaktifkan dua provider sekaligus dalam satu ponsel Asus Zenfone 2 Laser ZE500KG, sehingga akan lebih muda dalam berkomunikasi dengan keluarga maupun rekan bisnis.
Asus Zenfone 2 Laser ZE500KG juga sudah dibekali dengan jaringan 3G untuk mengakses internet. Kelebihan Asus Zenfone 2 Laser selanjutnya yaitu sudah dilengkapi dengan koneksi data GPRS serta EDGE yang berfungsi membantu para pengguna Asus Zenfone 2 Laser ZE500KG agar tetap dapat mengakses internet meski sedang berada ditempat atau wilayah yang belum tersentuh oleh jaringan 3G.
Selain itu masih banyak konektifitas serta fitur yang lain yang mendukung phablet Asus Zenfone 2 Laser ZE500KG dan sekalgus menajadi kelebihan. Phablet Asus Zenfone 2 Laser ZE500KG sudah dibekali dengan fitur Wi-Fi untuk mengakses internet diarea hotspot.  Smartphone Asus Zenfone 2 Laser ZE500KG juga sudah didkung fitur GPS, konektifitas Bluetooth serta USB.
Kelebihan dan Kelemahan Asus Zenfone 2 Laser ZE500KG, Intip Yuk...!!!,
Pada segi tampilan smartphone Asus Zenfone 2 Laser hadir sebagai phablet dengan bentang layar seluas 5.0 inches dengan rasio perbandingan antara layar dan body ~67.1%. Asus Zenfone 2 Laser ZE500KG memiliki layar beresolusi 720 x 1280 pixels serta mampu menciptakan kerapatan layar ~294 ppi pixel density.
Kelebihan Asus Zenfone 2 Laser ZE500KG yaitu sudah dibekali layar bersifat multitouch serta sudah dilengkapi dengan pelindung layar Corning Gorilla Glass 4. Dukungan pelindung layar tersebut akan membuat layar Asus Zenfone 2 Laser tetap terjaga dari goresan. Selain itu layar dikenakan Asus Zenfone 2 Laser ZE500KG juga sudah didukung dengan antarmuka Asus ZenUI.
Selanjutnya pada segi kamera, phablet Asus Zenfone 2 Laser ZE500KG juga memiliki kelebihan yaitu sudah dibekali dengan dual kamera yang akan mendukung untuk kegiatan fotografi para pengguna Asus Zenfone 2 Laser ZE500KG.
Smartphone Asus Zenfone 2 Laser ZE500KG sudah dibekali kamera utama 8 MP beresolusi 3264 x 2448 pixels dan sudah didukung oleh segudang fitur menarik diantaranya adalah fitur laser autofocus, dual-LED (dual tone) flash, Geo-tagging, touch focus, face detection, panorama dan fitur HDR.
Kamera utama Asus Zenfone 2 Laser ZE500KG beresolusi tinggi serta sudah didukung berbagai fitur menarik tersebut akan membantu Anda untuk mendapatkan hasil foto sesuai keinginan. Kelebihan lain dari kamera utama Asus Zenfone 2 Laser ZE500KG selain sudah dapat digunakan untuk mengambil foto juga sudah dapat difungsikan untuk merekam video.
Selain kamera utama, phablet Asus Zenfone 2 Laser ZE500KG juga sudah dibekali kamera depan beresolusi cukup tinggi yakni 5 MP. Kelebihan kamera  depan Asus Zenfone 2 Laser tersebut juga sudah didukung dengan fitur autofocus yang akan membantu Anda mendapatkan objek foto sesuai keinginan. Kamera depan Asus Zenfone 2 Laser tersebut akan memanjakan Anda saat berfoto selfie ataupun saat melakukan aktifitas video chatting.
Pada segi ruang penyimpanan ponsel pintar Asus Zenfone 2 Laser ZE500KG juga memiliki kelebihan karena sudah dibekali memori internal varian 8 GB / 16 GB. Memori internal Asus Zenfone 2 Laser tersebut masih dapat diekspansi menggunakan memori eksternal jenis microSD hingga kapasitas maksimum 128 GB.
Berbekal memori seluas itu maka akan membuat para pengguna Asus Zenfone 2 Laser ZE500KG dapat leluasa dalam menyimpan semua data-data mereka dalam ponsel Asus Zenfone 2 Laser, seperti gambar, foto, video atau bahkan aplikasi favorit seperti game.
Kelebihan dan Kelemahan Asus Zenfone 2 Laser ZE500KG, Intip Yuk...!!!,,
Selanjutnya pada sektor dapur pacu, phablet Asus Zenfone 2 Laser ZE500KG juga memiliki kelebihan karena sudah dibekali dengan sistem operasi dari Android yakni versi v5.0 (Lollipop). Kelebihan Asus Zenfone 2 Laser ZE500KG sudah dibekali dengan chipset Qualcomm MSM8916 Snapdragon 410.
Asus Zenfone 2 Laser ZE500KG sudah ditenagai dengan prosesor bertenaga Quad-core dengan kecepatan 1.2 GHz Cortex-A53. Pada segid desain grafis Asus Zenfone 2 Laser, pihak perusahaan mempercayakan ke pengolah grafis Adreno 306.
Kelebihan Asus Zenfone 2 Laser ZE500KG sudah dibekali dengan RAM sebesar 2 GB yang akan mendukung kinerja dapur pacu Asus Zenfone 2 Laser agar dapat bekerja secara maksimal serta lebih responsif meski saat digunakan untuk kegiatan multitasking tau menjalankan lebih dati satu aplikasi secara bersamaan.
Kemudian pada segi baterai yang merupakan salah sat bagian dari smartphone yang sangat penting yaitu sebagai sumber kehidupan, begitu juga dengan phablet Asus Zenfone 2 Laser ZE500KG. Perangkat Asus Zenfone 2 Laser ZE500KG sudah dibekali dengan baterai  bersifat removable yakni jenis Li-Ion berdaya tampung 2070 mAh.

Kelebihan Asus Zenfone 2 Laser ZE500KG

  • Dual SIM (Micro-SIM, dual stand-by)
  • Jaringan 2G dan jaringan 3G
  • Luas layar 5.0 inches, 720 x 1280 pixels (~294 ppi pixel density)
  • Multitouch
  • Proteksi Corning Gorilla Glass 4
  • Dual Kamera
  • Kamera utama 8 MP, 3264 x 2448 pixels, laser autofocus, dual-LED (dual tone) flash
  • Fitur Geo-tagging, touch focus, face detection, panorama, HDR
  • Video
  • Kamera depan 5 MP + autofocus
  • Memori internal 8/16 GB, 2 GB RAM
  • Memori eksternal microSD, up to 128 GB
  • Sistem operasi Android OS, v5.0 (Lollipop)
  • Chipset Qualcomm MSM8916 Snapdragon 410
  • Prosesor Quad-core 1.2 GHz Cortex-A53
  • Pengolah grafis Adreno 306

Kelemahan Asus Zenfone 2 Laser ZE500KG

Setelah melihat kelebihan Asus Zenfone 2 Laser ZE500KG, kini saatnya melihat kekurangan apa saja yang masih dimiliki Asus Zenfone 2 Laser ZE500KG. Kelemahan Asus Zenfone 2 Laser ZE500KG yaitu pada segi konektifitas, dimana phablet Asus Zenfone 2 Laser masih belum didukung dengan jaringan 4G LTE yang bisa mendukung kegiatan akses internet lebih cepat.
Kelemahan Asus Zenfone 2 Laser ZE500KG juga masih terdapat pada segi tampilan layar. Smartphone Asus Zenfone 2 Laser memiliki layar yang masih berteknologi TFT capacitive touchscreen, meski demikian juga sudah mampu menciptakan hingga 16 juta warna.

Kelemahan Asus Zenfone 2 Laser ZE500KG

  • Layar dikenakan Asus Zenfone 2 Laser ZE500KG masih bertipe TFT
  • Asus Zenfone 2 Laser ZE500KG tidak didukung jaringan 4G LTE
Itulah tadi informasi yang dapat saya sampaikan mengenai kelebihan dan kelemahan Asus Zenfone 2 Laser ZE500KG. Semoga ulasan seputar Asus Zenfone 2 Laser ZE500KG tersebt bermanfaat serta dapat membantu Anda. :)
Read more

Tempat Wiasata Misterius di Bali

Tulamben

Saat anda ingin jalan-jalan di Pulau Bali dan Bosan dengan objek wisata yang biasa-biasa saja mungkin article ini akan mencerahkanmu hehe… beberapa tempat ini sebenarnya bukanlah tempat wisata ada juga yang dulunya tempat wisata tapi karena terbengkalai membuatnya tanpa penghuni dan seram…karena banyak orang yang bertanya-tanya tentang keberadaan nya yang misterius dan jika kamu punya rasa penasaran yang tinggi, mungkin tempat-tempat ini   menjadi wajib untuk dikunjungi Berhati-hatilah karena anda akan menemukan keindahan dan keseramanya sekaligus.
  • Bangkai Kapal Perang Bekas Perang Dunia II di Tulamben
Kapal ini merupakan bekas kapal Amerika Serikat, USAT Liberty, yang tertembak oleh torpedo Jepang pada perang dunia II tahun 1942. Sebelum bergeser ke tengah laut karena dampak letusan Gunung Agung pada tahun 1963, sebenarnya kapal ini karam di pantai Tulamben.

Banyak penyelam yang tertarik ke tempat ini karena ingin melihat kapal karam yang kini menjadi rumah dan terumbu karang bagi biota laut ini. Selain itu sering juga dijadikan objek photography bawah air yang hasilnya sangat menabjubkan.
  • Taman Festival, Padang Galak, Sanur
Lokasi di Pantai Padang Galak, Sanur tempat ini sebenarnya sangat popluler di tahun 90-an dan dijadikan wisata keluarga bagi masyarakat Denpasar dan sekitarnya, dulu tempat ini ada taman beserta kolam renang lengkap dengan aneka permainan air dan juga ada penangkaran buaya serta satwa liar lainya.

Taman-Festival1
Sempat terbakar dan tak terurus lagi selama lebih dari 14 tahun, banyak yang menyebut tempat ini sebagai kota hantu meski buaya-buaya bekas penangkaran sudah dipindahkan tetapi  kabar dari warga setempat ada beberapa buaya yang masih lolos dan hidup di sana di kandang yang sekarang mirip rawa-rawa.
Taman-Festival-Sanur1
Kalau kamu kebetulan berkunjung kesana pastikan langkahmu di jalur yang tepat jangan sampai melintas di kandang buaya sangat tidak disarankan.
  • Puing Pesawat di Kuta Selatan Badung
Jika kamu pernah ke Pantai Pandawa, letak Puing Pesawat ini tidak jauh dari sana… yang bikin misterius tidak ada yang tahu mengapa bisa ada bangkai pesawat disana, konon ada seorang investor yang ingin membuat restaurant dengan konsep kabin pesawat tetapi tidak ada yang tahu mengapa tidak dilanjutkan sampai sekarang. 

Bangkai-Pesawat-Kuta1
Ya percis di depan tebing anda bisa melihat pesawat terbang yang tergeletak begitu saja, mungkin tak lama lagi bangkai pesawat ini akan di potong-potong untuk di daur ulang atau di beli untuk membuat rumah, bar atau restaurant hehehe…  sekarang waktu yang tepat jika anda ingin melihat pantai dan selfi di pesawat bekas ini.  
  • Pura Bawah Laut di Pemuteran
Pura-bawah-air-Pemuteran1
Pura bawah laut di Pemuteran ini memang benar-benar ada tetapi Pura ini ini bukanlah benar-benar pura untuk sembhyang bagi umat Hindu, karena sebenarnya Pura ini di buat untuk konservasi alam oleh seorang berkebangsaan Australia bernama Chris Brown pada tahun 2005. Keajaiban alamlah yang membuat Pura ini seolah-olah seperti bangunan yang terendam selama ratusan tahun sangat mengesankan bukan…

Pemuteran1
Untuk melihat Pura ini kita harus menyelam ke dasar laut namun biasanya terhalang oleh jarak pandang yang buruk selain itu dilokasi ini oleh warga setempat memang terkenal angker. Jadi jika anda ingin berkunjung agar selalu didampingi oleh pemandu dari warga setempat sebaiknya tidak meneyelam sendirian.
  • Hotel Taman Rekreasi Bedugul 
Jika anda pernah ke Bedugul atau ke Danau Beratan Bali pasti melintasi hotel ini, sebenarnya hotel ini dulu direncanakan oleh anak presiden kedua Indonesia yaitu Tommy Soeharto sebagai hotel untuk para wisatawan yang ingin menginap dan merasakan suasana desa di Bedugul yang mirip seperti wisata di Puncak, Jawa Barat.

Hotel-Bedugul1
tetapi akibat Bom Bali 2002, hotel ini tidak terurus lagi padahal semua bagian hotel telah lengkap sayang sekali setelah lebih dari 13 tahun kini hotel itu tampak seram dan angker warga pun menjulukinya sebagai hotel hantu.
Read more

Tuesday, 19 January 2016

6 Langkah Mudah Untuk Mengatasi Mata Lelah






Begitu banyak dari kita menggunakan komputer di tempat kerja, ketegangan mata akibat bekerja dengan komputer telah menjadi keluhan yang sering muncul. Studi menunjukkan 50 sampai 90% pegawai kantoran yang biasa bekerja didepan monitor mengalami ketegangan mata dan gejala penglihatan yang mengganggu lainnya.
Efek dari kelelahan mata ini dapat mengakibatkan, kepala pusing, penurunan produktivitas serta peningkatan jumlah kesalahan kerja, belum lagi gangguan kecil seperti mata sering berkedut, merah dan kering.
Berikut beberapa langkah mudah yang dapat Anda lakukan untuk mengurangi risiko ketegangan mata akibat pemakaian komputer dan gejala umum lainnya yang biasa di sebut  Computer Vision Syndrome (CVS):

1. Gunakan Pencahayaan yang Tepat
Ketegangan mata sering disebabkan oleh cahaya terang berlebihan baik dari sinar matahari di luar ruangan yang masuk melalui jendela atau dari pencahayaan dalam ruangan yang terlalu kuat. Bila Anda menggunakan komputer, pencahayaan Anda harus sekitar setengah terangnya dari yang biasanya ditemukan di sebagian besar kantor. Jika memungkinkan, posisikan monitor komputer sehingga jendela berada di  samping, bukan di depan atau di belakangnya.         

2. Upgrade Monitor Anda
Layar LCD lebih baik bagi mata dan biasanya memiliki permukaan anti-reflektif. Layar monitor tabung ( CRT) kuno dapat menyebabkan  "flicker" gambar, yang merupakan penyebab utama ketegangan mata komputer. Bahkan jika flicker ini tak terlihat, masih bisa menyebabkan untuk ketegangan mata dan kelelahan selama kerja komputer. Flicker tidak terdapat di layar LCD, karena kecerahan piksel pada layar dikendalikan oleh cahaya belakang dari layar LCD tersebut. Cobalah memilih layar yang relatif besar agar lebih nyaman dipakai. Untuk komputer desktop, pilih tampilan yang memiliki ukuran diagonal layar minimal 19 inchi

3. Sesuaikan Pengaturan Tampilan Komputer Anda.
Menyesuaikan pengaturan tampilan komputer Anda dapat membantu mengurangi ketegangan mata dan kelelahan. Umumnya, pengaturan berikut dapat mengurangi kelelahan pada mata:

Kecerahan. Menyesuaikan kecerahan layar sehingga kurang lebih sama seperti kecerahan ruang kerja sekitar Anda. Sebagai test, coba melihat latar belakang putih dari halaman Web ini. Jika terlihat seperti sumber cahaya, itu terlalu terang. Jika tampak kusam dan abu-abu, mungkin terlalu gelap.

Ukuran teks dan kontras. Sesuaikan ukuran teks dan kontras untuk kenyamanan, terutama ketika membaca atau menulis dokumen panjang. Biasanya, cetak hitam pada latar belakang putih adalah kombinasi terbaik untuk kenyamanan.

Temperatur warna. Ini adalah istilah teknis yang digunakan untuk menggambarkan spektrum cahaya tampak yang dipancarkan oleh layar warna. Warna biru muda mempunyai panjang  gelombang yang lebih pendek yang dapat menyebakan ketegangan dan kelelahan mata di bandingkan  dari warna yang panjang gelombangnya yang lebih panjang, seperti oranye dan merah. Mengurangi suhu warna tampilan Anda dengan menurunkan jumlah cahaya biru yang dipancarkan oleh layar warna untuk jangka panjang akan membuat kenyamanan melihat yang lebih baik.

4. Berkedip Lebih Sering.
 Menurut studi, ketika bekerja di depan komputer, orang akan  kurang berkedip.  Padahal berkedip sangat penting ketika bekerja di depan komputer; berkedip membasahi mata Anda untuk mencegah kekeringan pada mata dan iritasi. Air mata akan  menguap lebih cepat selama kita tidak berkedip dan ini dapat menyebabkan mata kering. Untuk mengurangi risiko mata kering selama penggunaan komputer, cobalah latihan ini: Setiap 20 menit, berkedip 10 kali dengan menutup mata Anda seakan tertidur (lakukan dengan sangat lambat). Ini akan membantu melembabkan mata Anda.

5. Olahraga Mata
Penyebab lain dari ketegangan mata adalah terlalu lama melihat focus pada satu titik. Untuk mengurangi risiko ini, Anda dapat mencoba trik 20-20-20.  Caranya, saat Anda terfokus di depan komputer, jauhkan pandangan setiap 20 menit sekali dan tatap sebuah objek yang jauh (setidaknya 20 kaki = 6 meter ) minimal selama 20 detik.  Melihat jauh dapat melemaskan otot fokus dalam mata untuk mengurangi kelelahan.

Atau lalukan cara lain seperti melihat obyek jauh selama 10-15 detik, kemudian alihkan pandangan ke objek yang dekat selama 10-15 detik, lalu kembali lagi melihat pada objek yang jauh. Lakukan latihan ini sampai 10 kali.  Kedua latihan ini akan mengurangi risiko ketegangan mata pada komputer.

6. Pertimbangkan Kacamata Khusus Komputer (Office Lens).
Untuk kenyamanan terbesar di komputer Anda, Anda bisa meminta bantuan refraksionist optisien di optic langganan Anda untuk membutkan resep kacamata khusus untuk pemakaian computer. Hal ini terutama berlaku jika Anda biasanya memakai lensa kontak, yang dapat menjadi kering dan tidak nyaman selama bekerja dengan computer dalam jangka waktu yang lama. (AB/K.Sv)
- See more at: http://www.optikmelawai.com/kesehatan-mata/tips-mengatasi-mata-lelah-akibat-bermain-komputer.html#sthash.jUOZWMMA.dpuf
Read more

Pengertian Serta Sejarah Hari Raya Nyepi


Jika kita perhatikan tujuan filosofis Hari Raya Nyepi, tetap mengandung arti dan makna yang relevan dengan tuntutan masa kini dan masa yang akan datang. Melestarikan alam sebagai tujuan utama upacara Tawur Kesanga tentunya merupakan tuntutan hidup masa kini dan yang akan datang. Bhuta Yajña (Tawur Kesanga) mempunyai arti dan makna untuk memotivasi umat Hindu secara ritual dan spiritual agar alam senantiasa menjadi sumber kehidupan.
Tawur Kesanga juga berarti melepaskan sifat-sifat serakah yang melekat pada diri manusia. Pengertian ini dilontarkan mengingat kata “tawur” berarti mengembalikan atau membayar. Sebagaimana kita ketahui, manusia selalu mengambil sumber-sumber alam untuk mempertahankan hidupnya. Perbuatan mengambil akan mengendap dalam jiwa atau dalam karma wasana. Perbuatan mengambil perlu dimbangi dengan perbuatan memberi, yaitu berupa persembahan dengan tulus ikhlas. Mengambil dan memberi perlu selalu dilakukan agar karma wasana dalam jiwa menjadi seimbang. Ini berarti Tawur Kesanga bermakna memotivasi ke-seimbangan jiwa. Nilai inilah tampaknya yang perlu ditanamkan dalam merayakan pergantian Tahun Saka

Menyimak sejarah lahirnya, dari merayakan Tahun Saka kita memperoleh suatu nilai kesadaran dan toleransi yang selalu dibutuhkan umat manusia di dunia ini, baik sekarang maupun pada masa yang akan datang. Umat Hindu dalam zaman modern sekarang ini adalah seperti berenang di lautan perbedaan. Persamaan dan perbedaan merupakan kodrat. Persamaan dan perbedaan pada zaman modern ini tampak semakin eksis dan bukan merupakan sesuatu yang negatif. Persamaan dan perbedaan akan selalu positif apabila manusia dapat memberikan proporsi dengan akal dan budi yang sehat. Brata penyepian adalah untuk umat yang telah mengkhususkan diri dalam bidang kerohanian. Hal ini dimaksudkan agar nilai-nilai Nyepi dapat dijangkau oleh seluruh umat Hindu dalam segala tingkatannya. Karena agama diturunkan ke dunia bukan untuk satu lapisan masyarakat tertentu.
Pelaksanaan Upacara
Upacara Melasti dilakukan antara empat atau tiga hari sebelum Nyepi. Pelaksanaan upacara Melasti disebutkan dalam lontar Sundarigama seperti ini: “….manusa kabeh angaturaken prakerti ring prawatek dewata.
Di Bali umat Hindu melaksanakan upacara Melasti dengan mengusung pralingga atau pratima Ida Bhatara dan segala perlengkapannya dengan hati tulus ikhlas, tertib dan hidmat menuju samudra atau mata air lainnya yang dianggap suci. Upacara dilaksanakan dengan melakukan persembahyangan bersama menghadap laut. Setelah upacara Melasti usai dilakukan, pratima dan segala perlengkapannya diusung ke Balai Agung di Pura Desa. Sebelum Ngrupuk atau mabuu-buu, dilakukan nyejer dan selama itu umat melakukan persembahyangan.
Upacara Melasti ini jika diperhatikan identik dengan upacara Nagasankirtan di India. Dalam upacara Melasti, pratima yang merupakan lambang wahana Ida Bhatara, diusung keliling desa menuju laut dengan tujuan agar kesucian pratima itu dapat menyucikan desa. Sedang upacara Nagasankirtan di India, umat Hindu berkeliling desa, mengidungkan nama-nama Tuhan (Nama smaranam) untuk menyucikan desa yang dilaluinya.
Dalam rangkaian Nyepi di Bali, upacara yang dilakukan berda-sarkan wilayah adalah sebagai berikut: di ibukota provinsi dilaku-kan upacara tawur. Di tingkat kabupaten dilakukan upacara Panca Kelud. Di tingkat kecamatan dilakukan upacara Panca Sanak. Di tingkat desa dilakukan upacara Panca Sata. Dan di tingkat banjar dilakukan upacara Ekasata.
Sedangkan di masing-masing rumah tangga, upacara dilakukan di natar merajan (sanggah). Di situ umat menghaturkan segehan Panca Warna 9 tanding, segehan nasi sasah 100 tanding. Sedangkan di pintu masuk halaman rumah, dipancangkanlah sanggah cucuk (terbuat dari bambu) dan di situ umat menghaturkan banten daksina, ajuman, peras, dandanan, tumpeng ketan sesayut, penyeneng jangan-jangan serta perlengkapannya. Pada sanggah cucuk digantungkan ketipat kelan (ketupat 6 buah), sujang berisi arak tuak. Di bawah sanggah cucuk umat menghaturkan segehan agung asoroh, segehan manca warna 9 tanding dengan olahan ayam burumbun dan tetabuhan arak, berem, tuak dan air tawar.
Setelah usai menghaturkan pecaruan, semua anggota keluarga, kecuali yang belum tanggal gigi atau semasih bayi, melakukan upacara byakala prayascita dan natab sesayut pamyakala lara malaradan di halaman rumah.
Upacara Bhuta Yajña di tingkat provinsi, kabupaten dan kecamatan, dilaksanakan pada tengah hari sekitar pukul 11.00 – 12.00 (kala tepet). Sedangkan di tingkat desa, banjar dan rumah tangga dilaksanakan pada saat sandhyakala (sore hari). Upacara di tingkat rumah tangga, yaitu melakukan upacara mecaru. Setelah mecaru dilanjutkan dengan ngrupuk pada saat sandhyakala, lalu mengelilingi rumah membawa obor, menaburkan nasi tawur. Sedangkan untuk di tingkat desa dan banjar, umat mengelilingi wilayah desa atau banjar tiga kali dengan membawa obor dan alat bunyi-bunyian. Sejak tahun 1980-an, umat mengusung ogoh-ogoh yaitu patung raksasa. Ogoh-ogoh yang dibiayai dengan uang iuran warga itu kemudian dibakar. Pembakaran ogoh-ogoh ini merupakan lambang nyomia atau menetralisir Bhuta Kala, yaitu unsur-unsur kekuatan jahat.
Ogoh-ogoh sebetulnya tidak memiliki hubungan langsung dengan upacara Hari Raya Nyepi. Patung yang dibuat dengan bambu, kertas, kain dan benda-benda yang sederhana itu merupakan kreativitas dan spontanitas masyrakat yang murni sebagai cetusan rasa semarak untuk memeriahkan upacara ngrupuk. Karena tidak ada hubungannya dengan Hari Raya Nyepi, maka jelaslah ogoh-ogoh itu tidak mutlak ada dalam upacara tersebut. Namun benda itu tetap boleh dibuat sebagai pelengkap kemeriahan upacara dan bentuknya agar disesuaikan, misalnya berupa raksasa yang melambangkan Bhuta Kala.
Karena bukan sarana upacara, ogoh-ogoh itu diarak setelah upacara pokok selesai serta tidak mengganggu ketertiban dan keamanan. Selain itu, ogoh-ogoh itu jangan sampai dibuat dengan memaksakan diri hingga terkesan melakukan pemborosan. Karya seni itu dibuat agar memiliki tujuan yang jelas dan pasti, yaitu memeriahkan atau mengagungkan upacara. Ogoh-ogoh yang dibuat siang malam oleh sejumlah warga banjar itu harus ditampilkan dengan landasan konsep seni budaya yang tinggi dan dijiwai agama Hindu.
Nah, lalu bagaimana pelaksanaan Nyepi di luar Bali? Rangkaian Hari Raya Nyepi di luar Bali dilaksanakan berdasarkan desa, kala, patra dengan tetap memperhatikan tujuan utama hari raya yang jatuh setahun sekali itu. Artinya, pelaksanaan Nyepi di Jakarta misalnya, jelas tidak bisa dilakukan seperti di Bali. Kalau di Bali, tak ada kendaraan yang diperkenankan keluar (kecuali mendapat izin khusus), namun di Jakarta hal serupa jelas tidak bisa dilakukan.
Sebagaimana telah dikemukakan, brata penyepian telah dirumuskan kembali oleh Parisada menjadi Catur Barata Penyepian yaitu:
  • Amati geni (tidak menyalakan api termasuk memasak). Itu berarti melakukan upawasa (puasa).
  • Amati karya (tidak bekerja), menyepikan indria.
  • Amati lelungan (tidak bepergian).
  • Amati lelanguan (tidak mencari hiburan).
Pada prinsipnya, saat Nyepi, panca indria kita diredakan dengan kekuatan manah dan budhi. Meredakan nafsu indria itu dapat menumbuhkan kebahagiaan yang dinamis sehingga kualitas hidup kita semakin meningkat. Bagi umat yang memiliki kemampuan yang khusus, mereka melakukan tapa yoga brata samadhi pada saat Nyepi itu.
Yang terpenting, Nyepi dirayakan dengan kembali melihat diri dengan pandangan yang jernih dan daya nalar yang tiggi. Hal tersebut akan dapat melahirkan sikap untuk mengoreksi diri dengan melepaskan segala sesuatu yang tidak baik dan memulai hidup suci, hening menuju jalan yang benar atau dharma. Untuk melak-sanakan Nyepi yang benar-benar spritual, yaitu dengan melakukan upawasa, mona, dhyana dan arcana.
Upawasa artinya dengan niat suci melakukan puasa, tidak makan dan minum selama 24 jam agar menjadi suci. Kata upawasa dalam Bahasa Sanskerta artinya kembali suci. Mona artinya berdiam diri, tidak bicara sama sekali selama 24 jam. Dhyana, yaitu melakukan pemusatan pikiran pada nama Tuhan untuk mencapai keheningan. Arcana, yaitu melakukan persembahyangan seperti biasa di tempat suci atau tempat pemujaan keluarga di rumah. Pelaksanaan Nyepi seperti itu tentunya harus dilaksana-kan dengan niat yang kuat, tulus ikhlas dan tidak didorong oleh ambisi-ambisi tertentu. Jangan sampai dipaksa atau ada perasaan terpaksa. Tujuan mencapai kebebesan rohani itu memang juga suatu ikatan. Namun ikatan itu dilakukan dengan penuh keikhlasan.
Read more

Kisah Ratu Leak Calonarang Rangda Nateng Girah

Ratu Leak Calonarang Rangda Nateng Girah
Oleh Heni Susilowati

Aji Wegig berbicara tentang adat istiadat di Bali dikaitkan dengan arus modernisasi, masih tetap ajeg dan kuat berakar di hati sanubari masyarakat Bali.

Ilmu Hitam yang di kenal dengan istilah "Pengeleakan" di bali, adalah merupakan suatu ilmu yang diturunkan oleh Ida Sang Hyang Widi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa) dengan segala manifestasinya dalam fungsinya untuk memprelina (memusnahkan ) manusia di muka bumi.

Ratu Leak Calonarang Rangda Nateng GirahDi Bali Ilmu tersebut dikenal masyarakat luas sejak dulu, ilmu ini memang teramat sadis karena dapat membunuh manusia dalam waktu yang relatif singkat.

Ilmu Leak dapat juga menyebabkan manusia mati secara perlahan yang dapat menimbulkan penderitaan yang hebat dan berkepanjangan.

Dalam masyarakat Bali khususnya yang beragama Hindu dikenal dengan istilah “Rua Bineda” yaitu Rua berarti dua dan Bineda berarti berbeda yang artinya ada dua yang selalu berbeda, seperti adanya siang dan malam, ada suka dan duka, ada hidup dan mati.

Demikian pula dengan ilmu ini ada ilmu yang beraliran kiri disebut Ilmu Hitam atau Ilmu Pengeleakan dan sebagai penangkalnya ada ilmu yang beraliran kanan atau Ilmu Putih.

Ilmu Hitam atau Ilmu Pengeleakan, tergolong "Aji Wegig" yaitu aji berarti ilmu, wegig berarti begig yaitu suatu sifat yang suka menggangu orang lain.

Karena sifatnya negative, maka ilmu ini sering disebut "Ngiwa". 
Ngiwa asal katanya kiwa (Bahasa Bali) artinya kiri.
Ngiwa berarti melakukan perbuatan kiwa alias kiri.

Ilmu leak ini bisa dipelajari pada lontar – lontar yang memuat serangkaian Ilmu Hitam.

Lontar –lontar artinya buku – buku jaman kuno yang terbuat dari daun pohon lontar yang dibuat sedemikian rupa dengan ukuran panjang 30 cm dan lebar 3 cm, diatas lontar diisi tulisan aksara Bali dengan bahasa yang sangat sakral.

Pada jaman Raja Airlangga yang berkuasa di Kerajaan Kediri yaitu pada abad ke-14 ada seorang Ibu yang menguasai Ilmu Pengleakan yang bernama Ibu Calonarang. Pada waktu Ibu Calonarang masih hidup pernah menulis buku lontar Ilmu Pengleakan empat buah yaitu :

Lontar Cambra Berag, Lontar Sampian Emas, Lontar Tanting Emas, Lontar Jung Biru.

Calonarang adalah nama julukan seorang perempuan yang bernama Dayu Datu dari Desa Girah yaitu Desa pesisir termasuk wilayah Kerajaan Kediri.

Calonarang berstatus Janda sehingga sering disebut Rangda Nateng Girah yaitu Rangda artinya Janda atau dalam bahasa Bali disebut balu, Nateng artinya Raja (Penguasa). Girah adalah nama suatu desa. Jadi ‘’Rangda Nateng Girah’’ artinya Janda Penguasa desa Girah. 

Calonarang adalah Ratu Leak yang sangat sakti, pada jaman itu bisa membuat wilayah Kerajaan Kediri Gerubug (wabah) yang dapat mematikan rakyatnya dalam waktu singkat, yaitu pada wilayah pesisir termasuk wilayah desa Girah.

Kisah ceritanya adalah sebagai berikut : 

Di Kerajaan Kediri pada masa pemerintahan Airlangga yaitu didesa Girah ada sebuah Perguruan Ilmu Hitam atau Ilmu Pengeleakan yang dipimpin oleh seorang janda yang bernama Ibu Calonarang (nama julukan dari Dayu Datu).

Murid – muridnya semua perempuan dan diantaranya ada empat murid yang ilmunya sudah tergolong tingkat senior antara lain : Nyi Larung, Nyi Lenda, Nyi Lendi, Nyi Sedaksa.

Ilmu leak ini ada tingkatan – tingkatannya yaitu :

1. Ilmu Leak Tingkat Bawah yaitu orang yang bisa ngeleak tersebut bisa merubah wujudnya menjadi binatang seperti monyet, anjing, ayam putih, kambing, babi betina (bangkung) dan lain – lain.

2. Ilmu Leak Tingkat Menengah yaitu orang yang bisa ngeleak pada tingkat ini sudah bisa merubah wujudnya menjadi Burung Garuda bisa terbang tinggi, paruh dan cakarnya berbisa, matanya bisa keluar api, juga bisa berubah wujud menjadi Jaka Tungul atau pohon enau tanpa daun yang batangnya bisa mengeluarkan api dan bau busuk yang beracun.

3. Ilmu Leak Tingkat Tinggi yaitu orang yang bisa ngeleak tingkat ini sudah bisa merubah wujudnya menjadi Bade yaitu berupa menara pengusungan jenasah bertingkat dua puluh satu atau tumpang selikur dalam bahasa Bali dan seluruh tubuh menara tersebut berisi api yang menjalar – jalar sehingga apa saja yang kena sasarannya bisa hangus menjadi abu.

Ibu Calonarang Terhina 

Ibu Calonarang juga mempunyai anak kandung seorang putri yang bernama Diah Ratna Mengali, berparas cantik jelita, tetapi putrinya tidak ada satupun pemuda yang melamarnya.

Karena Diah Ratna Mangali diduga bisa ngelelak, dengan di dasarkan pada hukum keturunan yaitu kalau Ibunya bisa ngeleak maka anaknyapun mewarisi ilmu leak itu, begitulah pengaduan dari Nyi Larung yaitu salah satu muridnya yang paling dipercaya oleh Ibu Calonarang.

Mendengar pengaduan tersebut, tampak nafas Ibu Calonarang mulai meningkat, pandangan matanya berubah seolah-olah menahan panas hatinya yang membara. Pengaduan tersebut telah membakar darah Ibu Calonarang dan mendidih, terasa muncrat dan tumpah ke otak. Penampilannya yang tadinya tenang, dingin dan sejuk, seketika berubah menjadi panas, gelisah. Kalau diibaratkan Sang Hyang Wisnu berubah menjadi Sang Hyang Brahma, air berubah menjadi api. Tak kuasa Ibu Calonarang menahan amarahnya. Tak kuat tubuhnya yang sudah tua tersebut menahan gempuran fitnah yang telah ditebar oleh masyarakat Kerajaan Kediri.

Ibu Calonarang sangat sedih bercampur berang, sedih karena khawatir putrinya bakal jadi perawan tua, itu berarti keturunannya akan putus dan tidak bisa pula menggendong cucu, berang karena putrinya dituduh bisa ngeleak.

Ibu Calonarang berkata kepada Nyi Larung : “Hai Nyi Larung, penghinaan ini bagaikan air kencing dan kotoran ke wajah dan kepalaku. Aku akan membalas semua ini, rakyat Kediri akan hancur lebur, dan luluh lantak dalam sekejap. Semua orang-orangnya akan mati mendadak. Laki-laki, perempuan, tua muda, semuanya akan menanggung akibat dari fitnah dan penghinaan ini. Kalau tidak tercapai apa yang aku katakan ini, maka lebih baik aku mati, percuma jadi manusia. Kalau Ibu Calonarang ini tidak melakukan balas dendam maka hati ini tidak akan merasa tentram”.

Demikian kata-kata Ibu Calonarang yang sangat mengerikan kalau seandainya hal ini menjadi kenyataan. Nyi Larung kemudian menyahut dan bertanya “Kalau demikian niat Guru, bagaimana kita bisa melakukan hal tersebut”. segera dijawab oleh Ibu Calonarang. “Kau Nyi Larung, ketahuilah, jangan terlalu khawatir akan segala kemampuanku. Aku Ibu Calonarang bukanlah orang sembarangan dan murahan. Kalau tidak yakin dengan diri, maka aku tidak akan sesumbar begitu. Biar mereka tersebut merasakan akibat dari segala perbuatan yang telah mereka lakukan terhadap anakku.

Kau Nyi Larung, Ibu minta agar kau mengumpulkan semua murid-muridku supaya segera masuk ke Pasraman Pengeleakan. “Tunggu sampai tengah malam nanti. Aku akan menurunkan segala ilmu kewisesan yang aku miliki kepada kalian semua. Karena sekarang hari masih terang dan sore, lebih baik engkau semua melakukan pekerjaan seperti biasanya. Aku akan mempersiapkan segala sesuatunya. Nanti malam kita akan berkumpul lagi membicarakan masalah tersebut, dan ingat tidak ada yang boleh tahu mengenai apa yang kita akan lakukan ini, kita akan membuat Kerajaan Kediri gerubung yaitu berupa serangan wabah penyakit yang sulit diobati yang dapat mematikan rakyatnya dalam waktu singkat. Demikian Ibu Calonarang menutup pembicaraannya pada sore hari tersebut, dan semua kembali melakukan kegiatan sebagaimana mestinya.

Gerubug Di Kerajaan Kediri

Diceritakan Rakyat Kerajaan Kediri di siang harinya yang ramai seperti biasanya. Masyarakatnya sebagian besar hidup dari bertani di sawah dengan menanam padi dan palawija. Anak-anak muda semuanya riang gembira bermain sambil mengembalakan sapi dan bebek di sawah. Mereka riang gembira, menemani orang tuanya yang sedang membajak sawah. Ada pula masyarakat yang bekerja sebagai tukang membuat rumah, pondok, bangunan suci seperti pura dan sanggah, atau membuat angkul-angkul atau pintu gerbang, dan lain-lain. Bagi kaum perempuan dan yang bekerja sebagai pedagang dengan menjual kue, nasi, kopi dan ada pula yang menenun kain untuk keperluan sendiri. Ada pula dari golongan pande bekerja khusus membuat perabotan pisau, sabit, parang, cangkul, keris, dan perabotan dari besi lainnya. Bagi yang mempunyai waktu luang yang laki-laki biasanya diisi dengan mengelus-elus ayam aduan, dan bagi yang perempuan digunakan untuk mencari kutu rambut.

Tidak ada terasa hal-hal aneh atau pertanda aneh di siang hari tersebut. Kegiatan masyarakat berlangsung dari pagi sampai sore, bahkan sampai malam hari. Pada malam hari masyarakat yang senang matembang atau bernyanyi melakukan kegiatannya sampai malam. Demikian pula dengan sekaa gong latihan sampai malam di Balai Banjar. Suasananya nyaman, tentram, dan damai sangat terasa ketika itu.

Setelah tengah malam tiba, semua masyarakat telah beristirahat tidur. Suasananya menjadi sangat gelap dan sunyi senyap, ditambah lagi pada hari tersebut adalah hari Kajeng Kliwon. Suatu hari yang dianggap kramat bagi masyarakat. Masyarakat biasanya pantang pergi sampai larut malam pada hari Kajeng Kliwon. Karena hari tersebut dianggap sebagai hari yang angker. Sehingga penduduk tidak ada yang berani keluar sampai larut malam.

Ketika penduduk Rakyat Kediri tertidur lelap di tengah malam, ketika itulah para murid atau sisya Ibu Calonarang yang sudah menjadi leak datang ke Desa-desa wilayah pesisir Kerajaan Kediri. Sinar beraneka warna bertebaran di angkasa. Desa-desa pesisir bagaikan dibakar dari angkasa. Ketika itu, penduduk desa sedang tidur lelap. Kemudian dengan kedatangan pasukan leak tersebut, tiba-tiba saja penduduk desa merasakan udara menjadi panas dan gerah. Angin dingin yang tadinya mendesir sejuk, tiba-tiba hilang dan menjadi panas yang membuat tidur mereka menjadi gelisah. Para anak-anak yang gelisah, dan terdengar tangis para bayi di tengah malam. Lolongan anjing saling bersahutan seketika. Demikian pula suara goak atau burung gagak terdengar di tengah malam. Ketika itu sudah terasa ada yang aneh dan ganjil saat itu. Ditambah lagi dengan adanya bunyi kodok darat yang ramai, padahal ketika itu adalah musim kering. Demikian pula tokek pun ribut saling bersahutan seakan-akan memberitahukan sesuatu kepada penduduk desa. Mendengar dan mengalami suatu yang ganjil tersebut, masyarakat menjadi ketakutan, dan tidak ada yang berani keluar.

Endih atau api jadi-jadian yang berjumlah banyak di angkasa kemudian turun menuju jalan-jalan dan rumah-rumah penduduk desa. Api sebesar sangkar ayam mendarat di perempatan jalan desa, dan diikuti oleh api kecil-kecil warna-warni. Setelah itu para leak yang tadinya terbang berwujud endih, kemudian setelah di bawah berubah wujud menjadi leak beraneka rupa, dan berkeliaran di jalan-jalan desa. Ketika malam itu, ada seorang masyarakat memberanikan diri untuk mengintip dari balik jendela rumahnya. Untuk mengetahui situasi di luar rumah. Namun apa yang dilihatnya? Sangat terkejut orang tersebut menyaksikan kejadian di luar. Orang tersebut, karena saking takutnya, segera ia masuk ke dalam rumah dan mengunci pintunya rapat-rapat, serta segera memohon kehadapan Hyang Maha Kuasa agar diberikan perlindungan. Kemudian orang tersebut mengalami sakit ngeeb atau ketakutan yang berlebihan dan tidak mau bicara.

Para murid atau sisya Ibu Calonarang yang berjumlah tiga puluh empat orang ditambah dengan empat orang muridnya yang sudah senior yaitu Nyi Larung, Nyi Lenda, Nyi Lendi, dan Nyi Sedaksa, semua sudah berada di desa pesisir. Malam yang sangat gelap kemudian ditambah dengan hujan gerimis yang memunculkan bau tanah yang angid, mambuat para leak menjadi semakin bersuka ria. Beberapa bola api bertebaran di angkasa berkejar-kerjaran dan menari-nari. Monyet-monyet besar, anjing bulu kotor, dan babi bertaring panjang berkeliaran di jalan-jalan sepanjang desa wilayah pesisir bercanda bersuka ria. Leak kambing, gegendu kerbau, gegendu jaran tampak jalan-jalan mengitari Kerajaan Kediri. Demikian pula dengan sosok Leak Celuluk yang berkelebat-kelebat dan bersandar di angkul-angkul rumah penduduk. Leak yang berwujud kreb kasa atau kain putih panjang bergulung-gulungan tampak melintang di jalanan. Di perempatan dan pertigaan jalan Desa, sosok Leak berwujud bade atau menara pengusungan mayat sedang menari-nari memenuhi jalanan. Semua leak tersebut menjalankan tugas seperti apa yang diperintahkan oleh gurunya yakni Ibu Calonarang.

Sungguh-sungguh seram memang pada malam itu. Penduduk desa tidak ada yang berani berkutik, apalagi keluar rumah. Para leak di malam itu telah menyebarkan penyakit grubug di desa-desa wilayah pesisir Kerajaan Kediri. Setelah semalaman para leak berpesta pora, maka hari telah menjelang pagi. Tiba saatnya para Leak untuk kembali ke wujud semula. Karena begitulah hukumnya sebagai leak. Waktu mereka adalah di malam hari. Apabila mereka melanggar hukum tersebut maka mereka akan mendapatkan bahaya. Ketika hari menjelang pagi para leak pun kembali ke tempatnya semula, dan pulang ke rumah. Demikian pula dengan Ibu Calonarang beserta Nyi Larung, Nyi Lenda, Nyi Lendi dan Nyi Sedaksa kembali pulang ke rumah setelah pesta pora di malam hari. Sekarang mereka hanya tinggal menunggu hasil dari kerja mereka semalam.

Diceritakan keesokan harinya penduduk desa bangun pagi-pagi. Mereka ramai menceritakan keanehan-keanehan dan keganjilan-keganjilan yang terjadi pada malam harinya. Semuanya menceritakan apa yang mereka rasakan atau apa yang mereka sempat saksikan malam itu dirumah masing-masing. Namun sedang asyiknya mereka bercerita, tiba-tiba saja ada seorang penduduk yang menjerit minta tolong. Orang tersebut mengatakan salah seorang keluarganya tiba-tiba saja sakit perut, muntah-muntah, dan mencret-mencret. Ketika mau memberikan pertolongan kepada penduduk di sebelah Barat tersebut, tiba-tiba saja tetangga di sebelah Timur menjerit minta tolong ada salah seorang keluarganya yang muntah dan mencret. Pagi itu, masyarakat desa menjadi panik. Karena mendadak sebagian penduduk mengalami muntah dan mencret. Bahkan pagi itu, ada beberapa yang telah meninggal. Beberapa lagi belum ada yang sempat diberi obat, tiba-tiba sudah meninggal. Demikian semakin panik masyarakat di desa. Segera saja yang meninggal dikuburkan di setra atau tempat pemakaman mayat, namun ketika pulang dari setra, tiba-tiba saja yang tadinya ikut mengubur menjadi sakit dan meninggal. Demikian seterusnya. Penduduk desa dihantui oleh bahaya maut. Seolah-olah kematian ada di depan hidung mereka. Sungguh mengerikan pemandangan di desa-desa wilayah pesisir Kerajaan Kediri ketika itu. Kerajaan Kediri gempar, sehari-hari orang mengusung mayat kekuburan dalam selisih waktu yang sangat singat.

Menghadapi situasi demikian beberapa penduduk dan prajuru desa mencoba untuk menanyakan kepada para balian atau dukun untuk minta pertolongan. Para balian pun didatangkan ke desa-desa yang kena bencana wabah gerubug. Ternyata mereka juga tidak dapat berbuat banyak menghadapi penyakit gerubug yang dialami penduduk desa. Bahkan, si balian atau dukun yang didatangkan tersebut mengalami mutah berak dan meninggal. Setiap hari kejadian tersebut terus berlangsung. Penduduk desa menjadi bingung dan panik. Ada yang berkehendak untuk mengungsi dan menghindar dari grubug tersebut. Mereka berbondong-bondong meninggalkan desanya. Namun ketika sampai di batas desa, mereka itu mengalami muntah berak dan meninggal seketika. Melihat keadaan seperti itu penduduk yang masih hidup menjadi semakin ketakutan. Ketika malam hari, mereka semua tidak ada yang berani tidur sendirian, dan tidak berani keluar rumah. Lolongan anjing tak henti-hentinya di malam hari. Burung gagak, katak dongkang, semuanya ribut saling bersahutan.

Adanya musibah yang menakutkan bercampur dengan sedih, para penduduk mencoba untuk berpasrah diri dan menyerahkan semuanya kehadapan Ida Sang Hyang Widhi. Setiap saat mereka memuja dan memohon kehadapan beliau agar bencana grubug ini segera berakhir, dan semua penduduk yang masih hidup diberkahi keselamatan dan kekuatan. Di samping itu perlindungan-perlindungan magis dipasang di depan pintu masuk pekarangan dan pintu rumah. Sesuai dengan petunjuk orang pintar atau sesuai dengan kebiasaan para tetuanya terdahulu. Penduduk memasang sesikepan atau pelindung magis seperti daun pandan berduri yang ditulisi tapak dara atau tanda palang dari kapur sirih, berisi bawang merah, bawang putih, jangu, juga benang tri datu yaitu benang warna merah, putih, hitam, dan pipis bolong atau uang kepeng. Jadi pada dasarnya semua dilakukan untuk menolak penyakit, dan memohon perlindungan kehadapan Hyang Maha Kuasa.

Setelah berberapa hari mengalami kepanikan, kebingungan dan ketakutan, akhirnya para prajuru desa atau Pengurus Desa, para penglingsir atau tetua, dan para pemangku, mengadakan pertemuan di salah satu Balai Banjar di Desa Girah. Pada intinya mereka membicarakan mengenai masalah atau penyakit gerubug yang menyerang desa-desa pesisir wilayah Kerajaan Kediri. Kalau seandainya masalah ini dibiarkan begitu saja, sudah pasti penduduk desa akan habis semuanya.

Mereka tetap berharap agar semua masyarakat meningkatkan astiti bhaktinya atau pemujaan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa atau Tuhan agar diberikan keselamatan, kesehatan, perlindungan, dan umur panjang. Disamping itu pula para prajuru desa para penglingsir atau tetua desa beserta dengan para pemangku sepakat untuk melaporkan masalah ini kehadapan Prabu Airlangga Raja Kediri. Mereka berencana memohon kehadapan Raja Airlangga agar beliau berkenan untuk datang ke desa-dewa wilayah pesisir Kerajaan Kediri meninjau rakyatnya yang sedang ditimpa musibah penyakit atau gerubug. Karena beliau sebagai penguasa atau sebagai Raja Kediri berhak tahu dan wajib untuk melindungi rakyatnya dari bencana. Demikian kesepakatan mereka dan merencanakan akan berangkat ke Istana besok pagi.

Ketika para tetua desa dan prajuru disertai dengan para pemangku masih berada di Bale pertemuan, tiba-tiba saja muncul seseorang yang bertubuh tinggi, kepala kribo, berkumis tebal dan brewok. Orang ini berjalan sempoyongan, dengan mata merah, dan bicaranya ngawur. Rupanya orang ini dalam keadaan mabuk. Orang tersebut datang di bale pertemuan dan berkata bahwa anaknya telah meninggal karena muntah mencret. Pemabuk itu kemudian berkata : mana Leak Calonarang yang telah memakan anakku, akan aku santap bola matanya mentah-mentah. Demikian orang tersebut sesumbar dihadapan para sesepuh desa. Ketika setelah mengatakan sesumbar tersebut Si Brewok tiba-tiba saja muntah mencret tak tertahankan, dan akhirnya tewas di tempat.

Setelah beberapa saat Si Brewok tergeletak, kemudian para tetua desa tersebut menjadi teringat dengan kejadian yang terjadi beberapa waktu lalu ketika di Desa Girah. Mereka baru ingat bahwa Si Brewok inilah yang menjadi biang keladi dari kejadian yang menimpa Diah Ratna Manggali anak Ibu Calonarang. Bersama-sama dengan orang banyak, Si Brewok ini telah membuat fitnah Diah Ratna Mengali bisa ngeleak karena Ibunya Calonarang adalah orang sakti dan bisa ngeleak. Jangan-jangan hal itu yang menjadi penyebab dari penyakit gerubug yang melanda desa-desa pesisir wilayah Kerajaan Kediri sekarang ini. Karena Calonarang merasa tersinggung dan terhina tidak akan tinggal diam. Mungkin saja ia akan membalas dendam sesuai dengan kemampuannya. Apalagi Calonarang adalah seorang yang sangat sakti dan memiliki murid yang sangat banyak. Sehingga dengan ilmu yang dimiliki mereka mencoba untuk menghancurkan desa-desa di Kerajaan Kediri dengan menebar penyakit gerubug. Rupanya mereka yang ada di sana mempunyai pikiran yang sama, dan sepakat untuk segera melaporkan hal tersebut kehadapan Prabu Airlangga Raja Kediri.

Keesokan harinya para prajuru desa beserta rombongan berangkat menuju Istana Kediri. Sangat cepat perjalanan mereka, sehingga tidak diceritakan sampailah rombongan tersebut di bencingah atau alun-alun Istana Raja. Ketika di Istana rombongan tersebut menyaksikan suatu keadaan yang tenang, damai, dan biasa saja, jauh dari kesusahan, kalau dibandingkan dengan apa yang terjadi di desa sekarang ini. Di bencingah puri tampak sekelompok masyarakat yang sedang duduk-duduk di bawah rimbunnya daun beringin yang sangat besar yang tumbuh di becingah, seolah-olah memayungi rakyat Kediri dari terik sinar matahari. Bangsingnya atau akarnya yang menjulur sampai menyentuh tanah seolah-olah menjulurkan tangannya untuk menolong rakyat Kediri yang kesusahan. Mereka seperti biasa yang laki-laki beristirahat, sambil mengecel atau mengelus ayam aduan. Di sampingnya tampak berderet ayam aduan dengan beraneka warna, dan mekruyuk atau berkokok saling bersahutan. Disana, ada pula dagang kopi, dagang kue, dagang nasi, dengan be guling nyodog atau babi guling yang utuh dan diletakkan di atas meja dagangan.

Rombongan tersebut disapa oleh orang-orang yang ada di bencingah. Mereka kemudian segera masuk ke dalam Istana Raja melalui pemedalan atau pintu keluar candi bentar yang megah, disandingkan dengan bale kulkul yang menjulang tinggi, dan bale bengong yang tampak mempesona, membuat mereka menjadi klangen atau kagum. Di hulu sebelah timur laut terdapat pemerajan puri atau tempat suci keluarga Raja yang sangat disucikan.

Mereka kemudian menghadap Prabu Airlangga di Bale penangkilan atau balai penghadapan. Setelah memberikan penghormatan kehadapan Sang Prabu, rombongan tersebut kemudian menjelaskan segala sesuatu maksud dan tujuannya mengahap ke Istana. Dijelaskan pula secara panjang lebar mengenai masalah yang sedang melanda desa-desa pesisir wilayah Kerajaan Kediri. Mereka kemudian memohon agar Sang Prabu berkenan untuk meninjau ke desa-desa. Demikian hatur mereka semua kehadapan Sang Prabu. Kemudian Sang Prabu menjawab dengan kata-kata yang agak berat, dan dengan roma muka yang agak tegang ketika itu.

“Kalau begitu keadaannya, penyebar gerubug di desa-desa wilayah pesisir tidak lain dan tidak bukan adalah Ibu Calonarang. Aku tidak akan meninjau ke desa lagi. Tetapi aku akan segara berupaya untuk menyelesaikan masalah kalian, dan menghadapi Calonarang yang sakti tersebut”.

“Pengerusakan dan penyebaran penyakit di desa-desa oleh Calonarang sebenarnya adalah tantangan langsung bagiku sebagai penguasa di Kerajaan Kediri. Aku akan menghadapi bagaimanapun ririh atau saktinya Calonarang. Calonarang sangat berani kepadaku, dan sangat besar dosanya karena telah membunuh banyak rakyatku yang tidak berdosa. Sangat besar dosanya terhadap kerajaan, sehingga orang tersebut harus mendapatkan ganjaran hukuman yang setimpal”. Demikian sabda Raja Kediri yang menabuh genderang perang terhadap Calonarang.

Sang Prabu juga menyampaikan pesan kepada rombongan Desa Girah sesampai di rumah nanti, beritahukan kepada seluruh rakyatku semuanya. Tenanglah, bersabarlah dan selalulah memuja kebesaran Ida Betara Tri Sakti yang berstana di Pura Kayangan Tiga. Selalulah berjaga-jaga di perbatasan desa sambil menghidupkan api obor sebagai penerangan dan sekaligus mohon perlindungan kehadapan Hyang Betara Brahma. Sebelum itu jangan lupa menghaturkan canang atau sesajen di sanggah atau tempat suci keluarga masing-masing agar para leluhur kita juga ikut membantu melindungi dari bahaya ini. Kemudian mohonlah sesikepan atau sarana magis yang bersarana bawang putih, jangu, benang tri datu, dan pipis bolong, sebagai sarana penolak leak. Demikian perintah dan sekaligus pesan Raja Kediri kepada rakyat beliau yang sedang ditimpa bencana gerubug dan salanjutnya para penghadap tersebut diijinkan untuk pamit kembali pulang. Tidak diceritakan perjalanan mereka, maka sampailah rombongan tersebut di rumah, dan segera memberitahukan apa yang menjadi titah Raja Kediri.

Raja Kediri Murka

Kembali diceritakan Prabu Airlangga Raja Kediri. Sepeninggalan rombongan Desa Girah, maka beliau sendirian duduk termenung di bale penangkilan. Pandangannya menerawang jauh kemana-mana, tangannya dikepalkan, dan tampak gelisah. Duduk bangun, demikianlah Sang Prabu sendirian di Istana. Tampaknya Sang Prabu tak kuasa menahan amarah dan panas hati beliau akibat ulah Calonarang. Sangat menakutkan sekali perangai beliau ketika itu. Diibaratkan macan gading atau harimau kuning yang akan menerkam mangsanya. Tak seorang pun parekan atau punakawan di puri atau istana yang berani menyapa beliau. Istri dan parekan atau punakawan di puri atau istana semuanya terdiam takut melihat gelagat Sang Prabu yang lagi murka. Tidak ada yang berani menghampiri dan menemani beliau ketika itu. Suguhan wedang atau kopi dan juga hidangan yang lainnya tidak disentuh sama sekali. Pikiran beliau hanya tertuju kepada upaya bagaimana mengalahkan Calonarang yang sakti tersebut.

Ketika hari menjelang siang, Sang Prabu belum juga beranjak dari tempat beliau duduk sejak pagi. Kemudian secara tak disangka-sangka datang Ki Patih Madri menghadap Sang Prabu ke Istana. Ia adalah seorang tabeng dada atau pengawal Istana. Ki Patih Madri berperawakan tinggi besar, pintar ilmu silat atau bela diri, dan menguasai beberapa ilmu kanuragan. Ia sangat berpengaruh di kalangan orang-orang di Kerajaan Kediri, namun ia sendiri berpenampilan sangat sederhana, polos, dan sangat setia kepada Istana terutama kehadapan junjungannya yakni Prabu Airlangga Raja Kediri.

Sangat gembira sekali perasaan Sang Prabu ketika Ki Patih Madri muncul di Istana, dan segera Sang Prabu menyuruhnya mendekat untuk diajak bertukar pikiran. Bagaikan diperciki embun pagi yang sejuk perasaan Raja Airlangga ketika Ki Patih Madri datang pada saat yang diperlukan sekali. Sambil menikmati hidangan kopi yang telah disuguhkan, Sang Prabu berkata kepada Ki Patih Madri : “aku hari ini sangat kesal, marah dan bercampur sedih dalam hatiku. Yang menyebabkan adalah ulah onar Calonarang yang telah menebar penyakit gerubug di desa-desa pesisir wilayah Kerajaan Kediri. Banyak rakyatku yang sakit dan meninggal di sana. Ia ingin menghancurkan Kerajaan Kediri, serta menghancurkan kekuasaanku. Sekarang karena kebetulan sekali Patih Madri datang ke Istana, maka aku ingin mendapatkan masukan dari engkau mengenai masalah yang menimpa desa tersebut. Bagaimana caranya menumpas dan melenyapkan Calonarang beserta sisya-sisyanya atau murid-muridnya yang telah berbuat onar tersebut. Sebab kalau tidak ditangani segera, maka rakyat desa Kerajaan Kediri akan habis, bahkan ia akan merencanakan untuk menghancurkan Kerajaan Kediri secara keseluruhan”. Demikian kata pembukuan yang cukup panjang dari Sang Prabu kepada Ki Patih Madri.

Mendengar semua itu, merasa kaget Ki Patih Madri, sebab sebelumnya ia sama sekali tidak mendengar adanya masalah ini. Ki Patih Madri berpikir sejenak, kemudian menjawab apa yang dikatakan Sang Prabu. “Mohon ampun Paduka, tidak patut rasanya hamba sebagai patih yang jugul punggung atau sangat bodoh memberikan masukan kehadapan Paduka. Namun atas titah Paduka, maka hamba akan mencoba untuk ikut urun pendapat mengenai masalah ini.

Namun hamba bagaikan nasikin segara atau membuang garam ke laut begitulah ibaratnya”. Lebih lanjut Ki Patih Madri menyampaikan haturnya kehadapan Sang Prabu “Kalau mendengar tingkah laku Calonarang tersebut, maka inilah yang disebut dalam sastra agama sebagai Atharwa yang artinya melakukan pembunuhan yang sangat kejam terhadap orang lain yang tidak berdosa dengan menggunakan Ilmu Hitam. Mereka telah menebar cetik atau racun niskala di wilayah desa. Ini pula digolongkan sebagai Himsa Karma yakni perbuatan membunuh makhluk lain secara sewenang-wenang. Para pelaku dari semua ini harus dihukum berat dan setimpal”. Demikian hatur Ki Patih Madri kehadapan Sang Prabu. Kemudian Ki Patih Madri menambahkan haturnya sekarang Paduka jangan terlalu bersedih dan khawatir. Hamba akan menjalankan Swadharmaning Kawula (kewajiban sebagai rakyat) bersama dengan rakyat Kediri yang lainnya. Hamba akan mengabdikan jiwa dan raga hamba untuk Kediri. Kita akan gempur Calonarang Rangda Nateng Girah, kita hancurkan antek-antek, dan kita musnahkan Calonarang”. Demikian Ki Patih Madri memompa semangat junjungannya. Sungguh lega hati Sang Prabu mendengar apa yang diucapkan oleh Ki Patih Madri.

Raja Airlangga kemudian membuat keputusan untuk menggempur Calonarang Rangda Nateng Girah, dan mempercayakan kepada Ki Patih Madri sebagai pimpinan penyerangan.

Gugurnya Ki Patih Madri

Diceritakan Ki Patih Madri telah mengumpulkan tokoh masyarakat dan penduduk yang mempunyai ilmu kanuragan atau ilmu kewisesan. Mereka semua dikumpulkan di Istana dan diberikan pengarahan mengenai rencana penyerangan ke tempat Ratu Leak di Desa Girah menggempur Calonarang di malam hari.

Waktu yang ditetapkan untuk penyerangan telah tiba. Menjelang tengah malam mereka berangkat bersama dilengkapi pula dengan senjata tajam, sesikepan, gegemet-gegemet, dan juga sesabukan atau sarana magis pelindung diri.

Karena kesaktian Calonarang, maka serangan dari pihak Kediri yang dipimpin Ki Patih Madri telah diketahui sebelumnya. Sehingga Calonarang memerintahkan kepada seluruh sisya-sisyanya atau murid-muridnya untuk bersiaga di perbatasan Desa Girah. Calonarang beserta sisyanya telah bersiaga menyambut kedatangan para jawara Kediri yang akan menggempurnya. Mereka telah menggelar semua ilmu yang dimiliki dan telah menyengker atau memagari Desa Girah dengan penyengker gaib, sehingga kekuatan musuh tidak dapat menembus pertahanan tersebut.

Pada tengah malam, sampailah Ki Patih Madri dan para jawara Kediri di perbatasan Desa Girah. Mereka langsung menggelar ajian yang mereka miliki dan menyerang musuh yang telah menghadang. Serangan tersebut kemudian dihadang oleh para murid Calonarang yang dipimpin oleh Nyi Larung sehingga terjadilah pertempuran ilmu kanuragan dimalam hari yang sangat dasyat. Bola-bola api beterbangan di antara kedua belah pihak. Taburan cahaya gemerlapan aneka warna di angkasa yang saling berkelebat, berkejar-kejaran, dan saling berbenturan. Langit di Desa Girah pada malam itu bagaikan kejatuhan bintang dari langit yang jumlahnya ribuan. Memang sungguh-sungguh digjaya mereka semua. Tidak beberapa lama pertempuran di malam hari berlangsung, serangan dari para jawara Kediri dapat dipatahkan oleh ketangguhan dari ilmu yang dimiliki oleh murid-murid Calonarang, sedangkan Ki Patih Madri gugur dalam peperangan melawan Nyi Larung dan para jawara Kediri banyak yang tewas. Para jawara Kediri yang masih hidup berhamburan berlari meninggalkan arena pertempuran karena terdesak. Mereka berusaha untuk menyelamatkan diri. Setelah mengalami desakan dari pasukan leak murid-murid Calonarang, maka para jawara Kediri memutuskan untuk berbalik dan kembali ke Istana Kediri, serta melaporkan semuanya kehadapan Prabu Airlangga.

Ratu Leak Calonarang Rangda Nateng GirahKekalahan pasukan Kediri menyebabkan pasukan leak Calonarang bergembira. Mereka semua tertawa ngakak yang suaranya nyaring dan keras membelah angkasa. Suaranya mengalun, melengking memenuhi angkasa dan berpantulan di antara bukit-bukit. Sehingga terasa mengerikan sekali suasananya pada malam hari tersebut. Mereka semua menari-nari di angkasa, berwujud bola-bola api saling berkejar-kejaran merayakan kemenangannya.

Diceritakan mengenai perjalanan sisa-sisa pasukan Kediri yang kalah perang. Pada pagi hari mereka telah sampai di Istana Kediri. Segera mereka menghadap Sang Prabu dan melaporkan segala sesuatunya. Demikian pula dengan Sang Prabu yang telah menunggu semalaman dengan harap-harap cemas.

Salah seorang dari pasukan Kediri menghaturkan sembah kehadapan Sang Prabu “mohon ampun Paduka, hamba permaklumkan bahwa murid-murid Calonarang benar-benar teguh atau kuat. Pasukan Kediri tidak mampu mengalahkannya dan Ki Patih Madri gugur dalam peperangan dan banyak pasukan yang tewas. Hamba gagal dalam mengemban tugas yang Paduka titahkan. Atas kegagalan tersebut, hamba mohon ampun, dan siap menjalankan hukuman”. Demikian permakluman prajurit Kediri kehadapan Sang Prabu.

Raja Airlangga yang bijaksana kemudian bersabda “ Wahai prajuri Kediri yang gagah berani beserta semua pasukan, kalah menang dalam peperangan sudah menjadi hukumnya. Yang penting sekarang adalah aku minta engkau agar tidak surut kesetiaanmu terhadap Kediri. Teruskanlah kesetiaanmu terhadap Istana, terhadap Kerajaan Kediri. Janganlah berputus asa, karena masih ada waktu dan masih ada cara lain untuk menumpas Calonarang beserta dengan antek-anteknya. Gempur kembali Calonarang. Sang Prabu melanjutkan wejangannya. “Harus kalian ingat mengenai Swadharmaning ring payudhan atau kewajiban dalam pertempuran. Dalam Shanti Parwa disebutkan bahwa apabila mati dalam peperangan, maka darah yang mengalir muncrat akan menghapus segala dosamu. Dan Sang Jiwa atau Sang Atma akan menuju Indraloka. Itulah yang hendaknya diingat dan dijadikan pedoman. Semuanya itu adalah merupakan sebuah pengorbanan yang suci atau yadnya yang digolongkan yadnya utama”. Demikian Sang Prabu memberikan wejangan kepada Prajurit Kediri yang hampir putus asa karena kalah perang.

Mendengar wejangan tersebut, para pasukan Kediri merasakan hidup kembali dan bersemangat. Bagaikan diberikan kekuatan bebayon atau kekuatan tenanga dalam, sehingga semangat pasukan tumbuh kembali. Prajurit kemudian berkata “baiklah tuanku, sangat senang hamba mendegar wejangan tersebut. Sekarang hamba sadar dan yakin akan diri. Hamba akan membela mati-matian dan menyabung nyawa menghadapi Calonarang beserta dengan murid-muridnya”. Pernyataan Prajurit tersebut dibarengi oleh seluruh pasukan, dan disambut hangat oleh Raja Airlangga. “Baiklah kalau begitu, Aku sebagai Raja Kediri sangat menghargai kesetiaamu.

Buku Rahasia Ilmu Pengeleakan Calonarang

Dengan kalahnya Patih Madri melawan Nyi Larung murid Calonarang, maka Raja Kediri sangat panik sehingga Raja Kediri memanggil seorang Bagawanta (Rohaniawan Kerajaan) yaitu Pendeta Kerajaan Kediri yang bernama Empu Bharadah yang ditugaskan oleh Raja untuk mengatasi gerubug (wabah) sebagai ulah onar si Ratu Leak Calonarang.

Empu Bharadah lalu mengatur siasat dengan cara Empu Bahula putra Empu Bharadah di tugaskan untuk mengawini Diah Ratna Mengali agar berhasil mencuri rahasia ilmu pengeleakan milik Janda sakti itu.

Empu Bahula berhasil mencuri buku tersebut berupa lontar yang bertuliskan aksara Bali yang menguraikan tentang teknik – teknik pengeleakan.

Setelah Ibu Calonarang mengetahui bahwa dirinya telah diperdaya oleh Empu Bharadah dengan memanfaatkan putranya Empu Bahula untuk pura–pura kawin dengan putrinya sehingga berhasil mencuri buku ilmu pengeleakan milik Calonarang.

Ibu Calonarang sangat marah dan menantang Empu Bharadah untuk perang tanding pada malam hari di Setra Ganda Mayu yaitu sebuah kuburan yang arealnya sangat luas yang ada di Kerajaan Kediri.

Pertempuran Penguasa Ilmu Hitam dengan Penguasa Ilmu Putih di Setra Ganda Mayu

Dalam perang besar ini Raja Airlangga mengikutkan Pasukan Khusus Balayuda Kediri dalam menghadapi Calonarang dan pasukan leaknya.

Para Pasukan Balayuda Kediri yang terpilih sebanyak dua ratus orang yang dipimpin oleh Ki Kebo Wirang dan Ki Lembu Tal. Semua pasukan ini akan mengawal dan membantu Empu Bharadah dalam menumpas kejahatan yang dilakukan oleh Calonarang dan antek-anteknya.

Segala sesuatu perlengkapan segera dipersiapkan seperti senjata tajam berupa tombak, keris, klewang, dan lain-lain. Demikian pula dengan berbagai sarana pelindung badan yang gaib sebagai sarana penolak atau penempur leak, sarana kekebalan, semuanya diturunkan dari tempatnya yang pingit atau tempat rahasia. Yang tidak kalah pentingnya adalah persiapan mengenai perbekalan makanan dan minuman yang diperlukan selama penyerangan. Ketika semua persiapan dianggap rampung, maka mereka pun istrirahat agar tenaga cukup kuat untuk penyerangan besok. Keesokan harinya perjalanan penyerangan dilakukan, pasukan khusus atau pasukan pilihan dari Kediri yang disebut dengan Pasukan Balayuda dalam penyerangan tersebut mengawal Empu Bharadah. Sedangkan di depan sebagai pemimpin pasukan dipercayakan kepada Ki Kebo Wirang didampingi Ki Lembu Tal.

Tidak diceritakan perjalanan mereka, akhirnya rombongan Empu Bharadah dan pasukan Kediri sampai di pesisir selatan Desa Lembah Wilis. Di sana rombongan tersebut berhenti sejenak untuk beristirahat dalam persiapan untuk menuju ke Desa Girah. Semua pasukan kemudian menuju Setra Ganda Mayu yang berada di Wilayah Desa Girah.

Diceritakan kemudian Ibu Calonarang dirumahnya diiringi oleh para sisyanya semua melakukan penyucian diri dan mengayat atau memuja kehadapan Ida Betari mohon anugrah kesaktian. Mereka memusatkan pikiran dan memanunggalkan bayu atau tenaga, sabda atau suara, dan idep atau pikiran, memuja Ida Betari bersarana sekar manca warna atau bunga warna-warni, dengan disertai asep menyan majegau atau wangi-wangian yang dibakar yang asapnya membubung ke angkasa, seolah-olah menyampaikan niat Ibu Calonarang kehadapan Ida Betari. Semua pekakas dan sarana pengleakan diturunkan dari tempatnya yang pingit atau tempat rahasia, dan masing-masing menggunakannya. Di hadapan mereka juga digelar tetandingan jangkep atau sarana sesajen lengkap sesuai dengan keperluan. Calonarang kemudian mulai memejamkan mata dan memusatkan pikiran. Ia tampak berkomat-kamit mengucapkan mantra sakti memohon anugrah kesaktian dan kesidian kehadapan Hyang Maha Wisesa, dengan harapan Empu Bharadah dan Balayuda Kediri dapat dikalahkan.

Setelah beberapa saat melakukan konsentrasi, maka sampailah pada puncaknya. Raja pengiwa pun telah dibangkitkan dan merasuk ke dalam sukma. Kedigjayaan atau kewisesan telah turun dan masuk ke dalam jiwa raga. Calonarang kemudian bangkit dan berkata kepada semua sisyanya “para sisyaku semuanya, permohonan kita kehadapan Hyang Betari telah terkabulkan dan telah mencapai puncaknya. Kesaktian telah kita bangkitkan semuanya, dan telah merasuk ke dalam jiwa dan raga. Kini saatnya kita bertarung menghadapi Empu Bharadah dan Balayuda Kediri. Kita akan pertahankan harga diri kita. Mampuskan semua orang-orang Kediri yang datang ke sini menyerang. Demikian perintah Calonarang kepada seluruh sisyanya. Suaranya ketika itu telah berubah menjadi besar dan menggema, dan bukan merupakan suaranya yang biasa. Kemudian Calonarangpun tertawa ngakak, dan terdengar menakutkan.

Semua sisya Calonarang telah nyuti rupa atau berubah wujud dan siap menyerang. Ada wujud bojog atau monyet yang siap menggigit, ada kambing siap nyenggot atau menanduk, ada sapi dan kuda yang siap ngajet atau menendang, ada kain kasa atau kain putih panjang yang siap menggulung dan membakar, ada bade atau menara pengusungan mayat yang siap membakar, ada babi bertaring panjang yang siap ngelumbih atau membanting dengan kepala, ada awak belig atau badan licin yang mukanya seperti umah tabuan atau sarang tawon. Ada pula api bergulung-gulung yang siap membakar siapa saja yang menghadang. Semua pasukan leak kemudian keluar dari rumah Calonarang dalam rupa bola api beterbangan, kemudian menuju ke Setra Ganda Mayu tempat perjanjian pertempuran dengan Empu Bharadah dan pasukan Balayuda Kediri.

Melihat pasukan leak dengan beraneka rupa datang, pasukan Kediri menjadi kaget dan was-was dan ada yang ketakutan. Semuanya bersiap-siap dan merapatkan diri. Demikian pula dengan Ki Kebo Wirang dan Ki Lembu Tal, mereka berdua sangat waspada serta selalu berada di dekat Empu Bharadah untuk mengawalnya.

Empu Bharadah tidak sedikitpun gentar melihat kawanan leak tersebut, bahkan semangat untuk bertempur semakin membara. Sambil juga Empu Bharadah mengucap mantra sakti Pasupati. Dilengkapi pula dengan sarana sesikepan, sesabukan, rerajahan kain, dan pripian tembaga wasa atau lempengan tembaga. Sangat ampuh mantra sakti Pasupati tersebut. Empu Bharadah membawa pusaka sakti berupa sebuah keris yang bernama Kris Jaga Satru.

Ibu Calonarang Tewas

Pertarunganpun terjadi dengan sangat seram dan dahsyat antara penguasa ilmu hitam yaitu Calonarang dibantu para sisya atau murid-muridnya dengan penguasa ilmu putih yaitu Empu Bharadah dibantu Pasukan Balayuda Kediri, di Setra Ganda Mayu.

Pertempuran berlangsung sangat lama sehingga sampai pagi, dan karena ilmu hitam mempunyai kekuatan hanya pada malam hari saja, maka setelah siang hari Ibu Calonarang akhirnya tidak kuat melawan Empu Bharadah

Calonarang terdesak dan sisyanya banyak yang tewas dalam pertempuran melawan Empu Bharadah dan Pasukan Balayuda Kediri. Mengetahui dirinya terdesak, Calonarang seperti biasa segera menggelar kesaktian pengiwanya. Ia segera berubah wujud menjadi seekor burung garuda berbulu emas, melesat ke udara, dan bersembunyi di balik awan. Ketika itu, Empu Bharadah segera masuk ke dalam rumah Calonarang . Didapatinya rumah Calonarang telah kosong, tak ada siapa-siapa. Pasukan Balayuda Kediri mengurung rumah Calonarang.

Empu Bharadah kemudian berteriak : “Hai kau Calonarang pengecut, di mana gerangan engkau bersembunyi. Sudah berwujud apa engkau sekarang, aku akan hadapi. Aku menantangmu, ayolah segera tunjukkan batang hidungmu”. Setelah berkata demikian, tiba-tiba ada jawaban dari angkasa. Rupanya Calonarang sudah bersembunyi dari tadi, tanpa sepengetahuan pasukan Kediri. Calonarang berkata : “Hai kau Empu Bharadah, dimana bersembunyi rajamu. Mendengar ejekan si garuda tersebut dari udara membuat Empu Bharadah menjadi naik darah. Segera Empu Bharadah memerintahkan kepada Ki Kebo Wirang untuk membidikan senjata tersebut ke arah si Garuda Calonarang. Namun ketika itu, Ki Kebo Wirang menjadi kebingungan karena musuh yang akan dibidik tidak kelihatan. Hanya suaranya saja yang berkoar-koar. Ditambah lagi dengan adanya kilat dan guntur yang menggelegar di angkasa. Semakin menyulitkan untuk membidik si Garuda Calonarang.

Menghadapi situasi demikian, Empu Bharadah mencoba untuk memikirkan sebuah daya upaya. Empu Bharadah kemudian memerintahkan kepada Ki Lembu Tal sebagai umpan, agar si garuda mau keluar dari persembunyiannya. Ki Lembu Tal mencoba untuk mencari tempat yang agak terbuka. Mereka menari-nari sambil mengibas-ngibaskan senjatanya ke udara sebagai pertanda menantang. Ki Lembu Tal mengejek si garuda : “Hai engkau Calonarang, kenapa engkau bersembunyi. Ayo turun, akan aku potong lehermu, akan aku cincang engkau, bila perlu aku jadikan burung garuda panggang. Hai kau Calonarang, kalau memang engkau sakti mengapa engkau bersembunyi di tempat yang tinggi begitu. Kalau engkau mau, kau boleh hisap pantatku”. Demikian ejekan Ki Lembu Tal yang tidak senonoh, sambil membuka kainnya dan memperlihatkan pantatnya ke arah datangnya suara Calonarang.

Mendengar dan melihat ejekan Ki Lembu Tal, menyebabkan Calonarang menjadi naik darah, dan segera keluar dari persembunyiannya. Si garuda Calonarang dengan secepat kilat terbang dan menyambar Ki Lembu Tal. Pada saat si garuda terbang menyambar Ki Lembu Tal, ketika itu pula Empu Bharadah membidikkan senjata pusaka Jaga Satru dan menembakkannya ke arah sang garuda. Si garuda jelmaan Calonarang tersebut terkena tembakan senjata Jaga Satru dan jatuh tersungkur ke tanah. Segera si garuda mengambil wujud kembali menjadi manusia sosok Calonarang. Ratu Leak Calonarang yang sakti mandraguna tidak berdaya dengan kesaktian senjata pusaka Jaga Satru Empu Bharadah. Semua pasukan Balayuda Kediri segera mendekati Calonarang yang tidak berdaya dan kemudian Calonarang menghembuskan nafas terakhir di Setra Ganda Mayu.

Dengan meninggalnya Ibu Calonarang maka bencana gerubug (wabah) yang melanda Kerajaan Kediri bisa teratasi.

Calonarang Rangda Nateng Girah yang mewariskan Ilmu Pengeleakan Aji Wegig sampai sekarang masih berkembang di Bali, karena masih ada generasi penerusnya sebagai pewaris pelestarian budaya di Bali. 
Read more
Powered by Blogger.